Selasa, 29 Juni 2010

Gabriel,Kau Merepotkan saja . !?




Mengapa temperature beku dan titik didih air pada skala Fahrenheit memiliki angka aneh 32 derajat dan 212 derajat?

Untuk kejadian sehari-hari macam membeku dan mendidihnya air, kedua angka tersebut memang aneh, bahkan bagi mereka yang biasa menggunakannya. Angka-angka tersebut terlanjur demikian karena seorang pembuat botol dan fisikawan amatir Jerman bernama Gabriel Fahrenheit (1868-1736) membuat beberapa keputusan buruk.

Peralatan untuk mengukur temperature sudah ada sejak 1592,walaupun belum seorang pun tahu definisi temperature, dan tidak seorang pun mencoba memasang angka-angka pada alat ukur itu.

Maka di tahun 1714 Fahrenheit membuat tabung kaca berisi benang air raksa yang sangat tipis. Ia memilih benda cair itu karena cantik, mengkilap, dan mudah dilihat sewaktu naik dan turun akibat pemuaian atau penyusutan karena mengalami pemanasan dan pendinginan. Akan tetapi thermometer Fahrenheit seperti alat sejenis terdahulu tanpa angka, dan terpikirlah olehnya untuk memasang angka-angka pada alatnya, maksudnya supaya orang-orang lebih mudah membuat perbandingan.

Maka Fahrenheit mulai merancang seperangkat alat untuk dituliskan pada tabung kacanya. Namun,susunannya harus sedemikian sehingga air raksa akan naik ke angka yang sama pada semua thermometer ketika berada pada temperature yang sama. Dan disinilah Gabriel mulai berulah. Para sejarahwan mungkin masih berdebat soal jalan pikirannya sesungguhnya, namun cerita berikut mungkin masuk akal.

Pertama, ia berpendapat bahwa karena sebuah lingkaran penuh memiliki 360 tahap yang disebut derajat, alangkah baiknya jika thermometer pun memiliki 360 tahap-sekalian menyebutnya derajat-untuk rentang antara temperature air beku dan temperature air didih. Akan tetapi 360 akan menyebabkan tiap derajatnya terlalu kecil, maka sebagai ganti ia memilih 180.

Kini mantaplah satu derajatnya, yakni tepat 1/180 jarak tabung antara tanda air membeku dan tanda air mendidih, selanjutnnya ia masih bingung tentang angka yang dipakai. Nol dan 180? 180 dan 360? Atau 32,212?(bukankah 212-32=180?).

Maka, ia memasukkan thermometer nya ke dalam sebuah campuran paling dingin yang dapat dibuatnya-sebuah campuran antara es dan suatu bahan kimia yang disibutnya ammonium chloride-dan disebutnya termperatur itu “nol”.(Gawat, dalam hal ini Anda terlalu arogan,Gabriel!! Begitu yakinkah Anda bahwa orang lain tidak akan mampu membuat temperature hamper 460 derajat di bawah temperature Anda.)

Ketika ia mengukur temperature nya tubuh dia sendiri, termometernya naik sampai 100 angka. (Baiklah, tepatnya 98.6 tapi jangan lupa menyimak kenapa angkanya demikian.) itulah salah satu kelebihan Fahrenheit ; sebagai manusia ia ingin agar temperature tubuh manusia mencatat angka 100 pada skala thermometer.

Sesudah itu, ia memasukkan termometernya ke dalam campuran es dan air, dan menemukan air raksa di dalamnya 32 derajat lebih tinggi daripada temperature nol campuran dinginnya. Maka, itu sebabnya titik beku air menjadi 32 derajat pada skala Fahrenheit. Akhirnya, jika temperature air mendidih harus 180 derajat lebih tinggi dari itu, berarti ia mendapat 32 angka + 180, atau 212. Sampai disini dulu cerita tentang Gabriel Fahrenheit.

Enam tahun setelah tubuh Fahrenheit menjadi sama dengan sekelilingnya, seorang astronom Swedia bernama Anders Celsius (1701-1744) mengusulkan skala centigrade untuk temperature, yang sekarang kita sebut skala Celcius. Centigrade artinya 100 derajat; ia menetapkan ukuran derajat sedemikian sehingga antara titik beku dan titik didih air terdapat 100 derajat, bukan 180 derajat. Selanjutnya ia mendefinisikan “temperature nol”nya pada titik beku air, sebagai titik acuan yang dapat diolah dengan mudah. Maka ia menetapkan titik didih air jatuh pada temperature 100 derajat.(Yang menarik,dengan alasan yang hanya diketahui para astronom Swedia, Celsius mula-mula menetapkan 100 untuk titik beku dan nol untuk titik didih, tetapi sepeninggal orang membalik ketetapan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan angka 98.6 yang oleh sebagian orang disebut sebagai temperature tubuh manusia “normal”? Itu jangan dianggap serius. Suhu manusia berubah-ubah sedikit tergantung waktu dalam sehari, atau dalam sebulan(untuk wanita), juga karena metabolisme. Akan tetapi suhu manusia memang rata-rata berkisar pada 37 derajat Celsius pada kebanyakan orang, maka dokter menyebutnya “normal”. Coba berapa harga Fahrenheit untuk 37 derajat Celsius? Betul, 98.6 derajat, angka yang kelihatan keren daripada angka bulatnya..

Bicara soal konversi, saya tidak pernah bosan untuk mengumumkan sebuah cara mudah untuk mengonversi temperature. Saya tidak tahu mengapa guru-guru terus menerus mengajarkan rumus-rumus yang rumit itu di sekolah, dengan angka 32, kurung-kurung dan pecahan yang tidak tetap,padahal ada cara yang lebih jauh dan lebih sederhana namun akurat.

Bagini caranya :

Untuk mengubah Celsius ke Fahrenheit, tambahkan 40 kalikan dengan 1,8 kemudian kurangi dengan 40.

Untuk mengubah Fahrenheit ke Celsius,tambahkan 40 bagi dengan 1,8 kemudian kurangi 40

Hanya begitu saja. Rumus di atas mujarab karena (a) 40 derajat di bawah nol pada kedua skala mempunyai temperature yang sama dan (b) satu derajat Celsius 1,8 kali besar daripada satu derajat Fahrenheit. (180:100=1,8).

Ada satu hal yang sering dilupakan : thermometer sesungguhnya hanya mengukur temperature mereka sendiri.

Coba renungkan. Sebuah thermometer dingin menghasilkan bacaan temperature rendah; sebuah thermometer panas menghasilkan bacaan temperature tinggi. Sebuah thermometer tidak memberikan bacaan temperature sebuah benda sampai kita menempelkannya di benda itu dan menjadi hangat, atau menjadi dingin, sampai sama dengan temperature benda bersangkutan. Itu sebabnya kita harus menunggu sampai temperature demam dihangatkan oleh tubuh kita sebelum memberikan bacaan yang benar.

Perlu di ingat! Termometer suhu badan bukan mengukur temperature tubuh melainkan mengukur temperaturnya sendiri.

Senin, 28 Juni 2010

Ketika Sains Membuktikan Kebenaran Ayat Al-Qur’an

Alhamdulillah tiba juga hari Jum’at…hmmm waktunya siap-siap nie…segera kuambil air wudhu dan kukenakan baju koko berwarna putih dengan bawahan menggunakan sarung berwarna hijau. Setelah semua tampak oke (kan mau menghadap Aloh jadi harus tampak “oke” dong hehehe…) segera kulangkahkan kaki menuju Masjid Al Fattah yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggalku (tentunya tak lupa salam kepada kedua orang tua). “Hmmm..masih banyak banget shaf yg kosong..” ujarku dalam hati dan masih berdiri di depan pintu masjid, “tapi shaf pertama sudah penuh semua..” alhamdulillah shaf kedua masih banyak yang kosong… ^_^

Kuambil selembar buletin Labbaik yang telah disediakan di depan pintu masuk masjid lalu kulangkahkan kaki kananku memasuki rumahNYA yang suci dengan tak lupa mengucapkan basmallah, salam dan doa. Setelah berada pada shaf kedua lalu segera kukerjakan shalat tahiyatul masjid 2 rakaat.

“SAINS MEMBUKTIKAN KEBENARAN AYAT AL QUR’AN…” hmmm kayaknya menarik banget nih isi buletinnya…”mumpung waktu adzan masih lama baca dulu ahhhh…” pikirku sembari mulai membaca paragraf pertama buletin tersebut.

Seorang guru besar / ahli bedah kenamaan Perancis, Prof. Dr. Murice Bucailie masuk Islam secara diam-diam. Sebelumnya, ia membaca Al Qur’an, bahwa Fir’aun itu mati karena tenggelam di laut (dengan shock yang berat) dan jasadnya oleh Aloh SWT diselamatkan “maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus : 92). Dicarinya mumi Fir’aun itu, dan setelah ketemu dilakukan bedah mayat. Hasilnya membuat ia terheran-heran, karena sel-sel syaraf Fir’aun menunjukkan bahwa kematiannya benar-benar akibat tenggelam di laut dengan shock yang hebat. Menemukan bukti ini, ia yakin kalau Al Qur’an itu wahyu Alloh SWT. Prof. Dr. Murice Bucailie mengatakan bahwa semua ayat-ayat Al Qur’an masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Ia pun lantas masuk Islam.

“Subhanalloh..” sahutku takjub dalam hati, dan tak sabar tuk membaca paragraf-pargraf selanjutnya…

Lain lagi halnya yang dialami oleh Jacques Yves Costeau. Ia adalah seorang ahli kelautan (oceanograf) dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Mr. Costeau sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudra seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia melalui acara “Discovery”. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, ia menemukan fenomena yang sangat ganjil, yaitu adanya air tawar di tengah lautan yang tidak bercampur dengan air laut seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Apa yang disaksikannya ini benar-benar kejutan besar dalam kariernya yang panjang di kelautan. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi? Pertanyaan ini menghantui hidupnya, sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang profesor yang kebetulan muslim. Profesor yang muslim ini menyampaikan padanya bahwa fenomena ganjil tersebut sebenarnya sudah diinformasikan oleh Al-Qur’an empat belas abad yang lalu, yaitu pada surat Al Furqon ayat 53 : “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan): yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalanginya” serta pada surat Ar Rahman ayat 19-20. Mendengar hal ini Mr. Casteau terkejut, bagaimana mungkin Muhammad SAW yang hidup di abad ketujuh, yaitu di suatu zaman di mana pasti belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh di kedalaman samudra mengetahui akan hal ini. Ia pun akhirnya berkesimpulan bahwa Al Qur’an mustahil buatan Muhammad SAW, pastilah Al Qur’an itu buatan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Dan ia pun memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Ir. RHA, Syahirul Alim, Msc dalam bukunya “Menuju Persaksian” menjelaskan tentang beberapa penemuan ilmu pengetahuan yang menakjubkan yang sebenarnya telah disiratkan dalam Al Qur’an, yaitu antara lain:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal adanya pasangan-pasangan. Jantan dan betina, siang dan malam, dan lain-lain. Pasangan-pasangan seperti itu bersifat saling melengkapi dan mengakibatkan timbulnya keharmonisan dalam alam ini. Menurut teori fisika atom atau fisika inti, telah diketemukan pasangan-pasangan yang sangat menggemparkan para ahli seperti elektron dan proton, proton dan anti proton, neutron dan anti neutron dan lainnya. Kesemuanya itu menguatkan (membenarkan) apa yang difirmankan dalam Al Qur’an : “Maha Suci Tuhan yang telah menjadikan semua pasangan-pasangan dari yang ditumbuhkan bumi, dan ada dari diri mereka sendiri serta dari hal-hal yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasin : 36). Lebih tegas lagi Alloh SWT berfirman : “Dan dari segala sesuatu Kami jadikan berpasang-pasangan, mudah-mudahan kamu ingat”. (QS. Adz Dzaariyaat: 49).

Masih banyak lagi hasil ilmu pengetahuan masa kini yang selaras dengan Al Qur’an. Kalau banyak ilmuan asing yang mendapat hidayah karena keyakinan kepada kebenaran Al Qur’an mengapa kita yang memang sudah muslim sering meragukan atau tidak kita jadikan pedoman hidup. “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al Baqarah: 2), “…Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)..(QS. Al Baqarah : 185).

Subhanalloh…segala puji bagiMU ya Alloh…

kututup lembar Buletin Labbaik tersebut dengan rasa penuh takjub dan syukur…bersyukur aku dilahirkan dalam keluarga ISLAM, bersyukur aku adalah seorang MUSLIM…..alhamdulillah…

—hendry.s—™